Sabtu, 29 Januari 2011

BUDIDAYA JERUK

I. PENDAHULUAN
Prospek agribisnis jeruk di Indonesia cukup bagus karena potensi lahan produksi yang luas. Melalui program peningkatan kualitas sumberdaya petani jeruk serta didukung dengan hasil inovasi teknologi pemupukan dan hormon alami, pengelolaan hama dan penyakit terpadu, serta sistem budidaya lainnya yang semuanya didasarkan pada semangat ramah lingkungan akan meningkatkan Kuantitas dan Kualitas produksi jeruk dengan tetap menjaga Kelestarian lingkungan.

II. SYARAT PERTUMBUHAN
Perlu 6-9 bulan basah (musim hujan), curah hujan 1000-2000 mm/th merata sepanjang tahun, perlu air yang cukup terutama di bulan Juli-Agustus. Temperatur optimal antara 25-30 °C dan kelembaban optimum sekitar 70-80%. Kecepatan angin lebih dari 40-48% akan merontokkan bunga dan buah. Ketinggian optimum antara 1-1200 m dpl. Jeruk tidak menyukai tempat yang terlindung dari sinar matahari. Jenis tanah Andosol dan Latosol sangat cocok, derajat keasaman tanah (pH tanah) adalah 5,5-6,5 . Air tanah optimal pada kedalaman 150-200 cm di bawah permukaan tanah. Pada musim kemarau 150 cm dan pada musim hujan 50 cm. Tanaman jeruk menyukai air yang mengandung garam sekitar 10%.
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Cara generatif
Biji diambil dari buah dengan memeras buah yang telah dipotong. Biji dikeringanginkan di tempat yang tidak disinari selama 2-3 hari hingga lendirnya hilang. Tanah persemaian diolah sedalam 30-40 cm dan dibuat petakan berukuran 1,15-1,20 m membujur dari utara ke selatan. Jarak petakan 0,5-1m. Sebelum ditanami, tambahkan pupuk kandang 1 kg/m2. Biji ditanam dalam alur dengan jarak tanam 1-1,5 x 2 cm dan langsung disiram larutan POC NASA + 1-2 cc/lt air. Persemaian diberi atap. Bibit dipindahtanam ke dalam polibag 15 x 35 cm setelah tingginya 20 cm pada umur 3-5 bulan. Media tumbuh dalam polibag adalah campuran pupuk kandang dan sekam (2:1) atau pupuk kandang, sekam, pasir (1:1:1) atau cukup dengan menggunakan tanah biasa disiram POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) per 10-15 liter air.

3.1.2. Cara Vegetatif
Metode dengan cara penyambungan tunas pucuk dan penempelan mata tempel. Untuk kedua cara ini perlu dipersiapkan batang bawah (understam/rootstock) yang dipilih dari jenis jeruk dengan perakaran kuat dan luas, daya adaptasi lingkungan tinggi, tahan kekeringan, tahan/toleran terhadap penyakit virus, busuk akar dan nematoda. Varietas batang bawah yang biasa digunakan adalah Japanese citroen, Rough lemon, Cleopatra, Troyer Citrange dan Carizzo citrange. Setelah penyambungan tunas pucuk atau penempelan mata tempel, segera disemprot menggunakan POC NASA (3-4 tutup/tangki ) + HORMONIK (1 tutup/tangki ).

3.1.2.1. Pengolahan Media Tanam
Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari tanaman lain atau sisa-sisa tanaman. Jarak tanam bervariasi untuk setiap jenis jeruk dapat dilihat pada data berikut ini: (a) Keprok dan Siem jarak tanam 5 x 5 m; (b) Manis : jarak tanam 7 x 7 m; (c) Sitrun (Citroen) : jarak tanam 6 x 7 m; (d) Nipis : jarak tanam 4 x 4 m; (e) Grape fruit : jarak tanam 8 x 8 m; (f) Besar : jarak tanam (10-12) x (10-12) m.
Lubang tanam dibuat 2 minggu sebelum tanam. Tanah bagian dalam dipisahkan dengan tanah dari lapisan atas. Tanah berasal dari lapisan atas dicampur dengan 1-2 kg pupuk kandang dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan.
Pengembangbiakan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur 50-100 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Selanjutnya didiamkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari + 1 minggu dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).

3.1.2.2. Teknik Penanaman
Bibit jeruk dapat ditanam pada musim hujan atau musim kemarau jika tersedia air untuk menyirami, tetapi sebaiknya ditanam diawal musim hujan. Sebelum ditanam, perlu dilakukan: (a) Pengurangan daun dan cabang yang berlebihan; (b) Pengurangan akar; (c) Pengaturan posisi akar agar jangan ada yang terlipat.
Setelah bibit ditanam, siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata dengan dosis ± 1 tutup POC NASA per liter air setiap pohon. Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA. Adapun cara penggunaan SUPER NASA adalah sebagai berikut: 1 (satu) botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap
1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi disiramkan setiap pohon.
Beri mulsa jerami, daun kelapa atau daun-daun yang bebas penyakit di sekitar bibit. Letakkan mulsa sedemikian rupa agar tidak menyentuh batang untuk menghindari kebusukan batang. Sebelum tanaman berproduksi dan tajuknya saling menaungi, dapat ditanam tanaman sela baik kacang-kacangan/sayuran. Setelah tajuk saling menutupi, tanaman sela diganti oleh rumput/tanaman legum penutup tanah yang sekaligus berfungsi sebagai penambah nitrogen bagi tanaman jeruk.

IV. PEMELIHARAAN TANAMAN
4.1. Penyulaman
Dilakukan pada tanaman yang tidak tumbuh.
4.2. Penyiangan
Gulma dibersihkan sesuai dengan frekuensi pertumbuhannya, pada saat pemupukan juga dilakukan penyiangan.
4.3. Pembubunan
Jika ditanam di tanah berlereng, perlu diperhatikan apakah ada tanah di sekitar perakaran yang tererosi. Penambahan tanah perlu dilakukan jika pangkal akar sudah mulai terlihat.
4.4. Pemangkasan
Pemangkasan bertujuan untuk membentuk tajuk pohon dan menghilangkan cabang yang sakit, kering dan tidak produktif. Dari tunas-tunas awal yang tumbuh biarkan 3-4 tunas pada jarak seragam yang kelak akan membentuk tajuk pohon. Pada pertumbuhan selanjutnya, setiap cabang memiliki 3-4 ranting atau kelipatannya. Bekas luka pangkasan ditutup dengan fungisida atau lilin untuk mencegah penyakit. Sebaiknya celupkan dulu gunting pangkas ke dalam alkohol. Ranting yang sakit dibakar atau dikubur dalam tanah.
4.5. Pemupukan Susulan
Umur
(tahun)
Dosis Pupuk Makro (gr/pohon)
Urea
TSP
KCl
1
80
170
170
2
160
325
250
3
250
500
325
4
325
170
425
5
400
210
500
6
500
250
600
7
600
300
700
8
700
325
780
9
780
390
850
10
850
425
900
>10

Sebaiknya dilakukan analisis tanah
Dosis POC NASA mulai awal tanam :
0-3

2-3 tutup/diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang setiap 4-5 bulan sekali (sesekali bisa disemprot ke daun)
>3

3-4 tutup/diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang setiap 3-4 bulan sekali (sesekali bisa disemprot ke daun)

Catatan: Akan Lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPER NASA 1-2 kali/tahun dosis 1 botol untuk + 200 pohon. Cara lihat pada Teknik Penanaman (Point 3.1.2.2.)
4.6. Penggunaan Hormonik
Hormonik dapat diberikan terutama setelah tanaman berumur 2 tahun, atau diberikan sejak awal lebih bagus. Caranya melalui penyiraman atau penyemprotan bersama dengan POC NASA (3-5 tutup POC NASA ditambah 1 tutup Hormonik).
4.7.Pengairan dan Penyiraman
Penyiraman jangan berlebih. Tanaman diairi sedikitnya satu kali dalam seminggu pada musim kemarau. Jika air kurang tersedia, tanah di sekitar tanaman digemburkan dan ditutup mulsa.
4.8. Penjarangan Buah
Pada saat pohon jeruk berbuah lebat, perlu dilakukan penjarangan supaya pohon mampu mendukung pertumbuhan, bobot buah serta kualitas buah. Buah yang dibuang meliputi buah sakit, tidak terkena sinar matahari (di dalam kerimbunan daun) dan kelebihan buah di dalam satu tangkai. Hilangkan buah di ujung kelompok buah dalam satu tangkai utama dan sisakan hanya 2-3 buah.
V. Hama dan Penyakit
5.1. Hama
a. Kutu loncat (Diaphorina citri.)
Bagian diserang : tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda. Gejala: tunas keriting, tanaman mati. Pengendalian: menggunakan PESTONA atau Natural BVR. Penyemprotan dilakukan menjelang dan saat bertunas, buang bagian yang terserang.
b. Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii.)
Bagian diserang : tunas muda dan bunga. Gejala: daun menggulung dan membekas sampai daun dewasa. Pengendalian: menggunakan PESTONA atau Natural BVR.
c. Ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella.)
Bagian diserang : daun muda. Gejala: alur melingkar transparan atau keperakan, tunas/daun muda mengkerut, menggulung, rontok. Pengendalian: semprotkan dengan PESTONA. Kemudian daun dipetik dan dibenamkan dalam tanah.
d. Tungau (Tenuipalsus sp. , Eriophyes sheldoni Tetranychus sp)
Bagian diserang : tangkai, daun dan buah. Gejala: bercak keperak-perakan atau coklat pada buah dan bercak kuning atau coklat pada daun. Pengendalian: semprotkan PESTONA atau Natural BVR.
e. Penggerek buah (Citripestis sagittiferella.)
Bagian diserang : buah. Gejala: lubang gerekan buah keluar getah. Pengendalian: memetik buah yang terinfeksi, disemprot PESTONA pada buah berumur 2-5 minggu.
f. Kutu penghisap daun (Helopeltis antonii.)
Bagian diserang : tunas, daun muda dan pentil. Gejala: bercak coklat kehitaman dengan pusat berwarna lebih terang pada tunas dan buah muda, bercak disertai keluarnya cairan buah yang menjadi nekrosis. Pengendalian: semprotkan PESTONA
g. Thrips (Scirtotfrips citri.)
Bagian diserang : tangkai dan daun muda. Gejala: helai daun menebal, tepi daun menggulung ke atas, daun di ujung tunas menjadi hitam, kering dan gugur, bekas luka berwarna coklat keabu-abuan kadang disertai nekrotis. Pengendalian: menjaga agar tajuk tanaman tidak terlalu rapat dan sinar matahari masuk ke bagian tajuk, hindari memakai mulsa jerami. Kemudian gunakan PESTONA atau Natural BVR.
h. Kutu dompolon (Planococcus citri.)
Bagian diserang : tangkai buah. Gejala: berkas berwarna kuning, mengering dan buah gugur. Pengendalian: gunakan PESTONA. atau Natural BVR. Cegah datangnya semut sebagai vektor kutu.
i. Lalat buah (Dacus sp.)
Bagian diserang : buah yang hampir masak. Gejala: lubang kecil di bagian tengah, buah gugur, belatung kecil di bagian dalam buah. Pengendalian: gunakan Perangkap lalat Buah.

5.2. Penyakit
a. CVPD
Penyebab: Bacterium like organism dengan vektor kutu loncat Diaphorina citri. Bagian yang diserang: silinder pusat (phloem) batang. Gejala: daun sempit, kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak dan pangkal buah oranye. Pengendalian: gunakan bibit tanaman bebas CVPD. Lokasi kebun minimal 5 km dari kebun jeruk yang terserang CVPD. Gunakan Pestona atau Natural BVR untuk mengendalikan vektor.
b. Blendok
Penyebab: jamur Diplodia natalensis. Bagian diserang : batang atau cabang. Gejala: kulit ketiak cabang menghasilkan gom yang menarik perhatian kumbang, warna kayu jadi keabu-abuan, kulit kering dan mengelupas. Pengendalian: pemotongan cabang terinfeksi. Bekas potongan diolesi POC NASA + Hormonik + Natural GLIO. POC NASA dan Hormonik bukan berfungsi mengendalikan Blendok, namun dapat meningkatkan daya tahan terhadap serangan penyakit.
c. Embun tepung
Penyebab: jamur Oidium tingitanium. Bagian diserang : daun dan tangkai muda. Gejala: tepung berwarna putih di daun dan tangkai muda. Pengendalian: gunakan Natural GLIO pada awal tanam.
d. Kudis
Penyebab: jamur Sphaceloma fawcetti. Bagian diserang : daun, tangkai atau buah. Gejala: bercak kecil jernih yang berubah menjadi gabus berwarna kuning atau oranye. Pengendalian: pemangkasan teratur, gunakan Natural GLIO pada awal tanam.
e. Busuk buah
Penyebab: Penicillium spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae. Bagian diserang : buah. Gejala: terdapat tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit. Pengendalian: hindari kerusakan mekanis, gunakan Natural GLIO awal tanam
f. Busuk akar dan pangkal batang
Penyebab: jamur Phyrophthora nicotianae. Bagian diserang : akar, pangkal batang serta daun di bagian ujung. Gejala: tunas tidak segar, tanaman kering. Pengendalian: pengolahan dan pengairan yang baik, sterilisasi tanah pada waktu penanaman, buat tinggi tempelan minimum 20 cm dari permukaan tanah. gunakan Natural GLIO pada awal tanam
g. Buah gugur prematur
Penyebab: jamur Fusarium sp. Colletotrichum sp. Alternaria sp. Bagian yang diserang: buah dan bunga. Gejala: dua-empat minggu sebelum panen buah gugur. Pengendalian: gunakan Natural GLIO pada awal tanam
h. Jamur upas
Penyebab: Upasia salmonicolor. Bagian diserang : batang. Gejala: retakan melintang pada batang dan keluarnya gom, batang kering dan sulit dikelupas. Pengendalian: kulit yang terinfeksi dikelupas dan diolesi fungisida yang mengandung tembaga atau belerang, kemudian potong cabang yang terinfeksi.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

VI. Panen
Buah jeruk dipanen saat masak optimal berumur + 28-36 minggu, tergantung jenis/varietasnya. Buah dipetik dengan menggunakan gunting pangkas.

Susunan Kabinet Indonesia Bersatu II

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dilantik menjadi Presiden RI untuk periode kedua, 2009 - 2014, pada 20 Oktober 2009. Bersama Wakil Presiden Boediono, Presiden SBY diambil sumpahnya dalam Sidang Paripurna MPR-RI. Sehari kemudian, 21 Oktober 2009, Presiden SBY mengumumkan daftar anggota kabinet baru yang dinamai `Kabinet Indonesia Bersatu II`. Sesuai ketentuan UU No.39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara, jumlah kementerian tetap 34, terdiri atas 3 (tiga) Menteri Koordinator dan seorang Sekretaris Negara, 20 (duapuluh) menteri yang memimpin departemen, dan 10 (sepuluh) menteri negara.
Berikut susunan Kabinet Indonesia Bersatu II selengkapnya:
1. Menko Politik, Hukum, dan Keamanan: Marsekal TNI Purn Djoko Suyanto
2. Menko Perekonomian: Hatta Rajasa
3. Menko Kesra: Agung Laksono
4. Menteri Sekretaris Negara: Sudi Silalahi
5. Menteri Dalam Negeri: Gamawan Fauzi
6. Menteri Luar Negeri: Marty Natalegawa
7. Menteri Pertahanan: Purnomo Yusgiantoro
8. Menteri Hukum dan HAM: Patrialis Akbar
9. Menteri Keuangan: Sri Mulyani
10. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Darwin Zahedy Saleh
11. Menteri Perindustrian: MS Hidayat
12. Menteri Perdagangan: Mari Elka Pangestu
13. Menteri Pertanian: Suswono
14. Menteri Kehutanan: Zulkifli Hasan
15. Menteri Perhubungan: Freddy Numberi
16. Menteri Kelautan dan Perikanan: Fadel Muhammad
17. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi: Muhaimin Iskandar
18. Menteri Pekerjaan Umum: Djoko Kirmanto
19. Menteri Kesehatan: Endang Rahayu Sedyaningsih
20. Menteri Pendidikan Nasional: Muhammad  Nuh
21. Menteri Sosial: Salim Segaf Aljufrie
22. Menteri Agama: Suryadharma Ali
23. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata: Jero Wacik
24. Menteri Komunikasi dan Informatika: Tifatul Sembiring
25. Menneg Riset dan Teknologi: Suharna Surapranata
26. Menteri Negara Urusan Koperasi dan UKM: Syarifudin Hasan
27. Menneg Lingkungan Hidup: Gusti Moh Hatta
28. Menneg Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Agum Gumelar
29. Menneg Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: EE Mangindaan
29. Menneg Pembangunan Daerah Tertinggal: Helmy Faisal Zaini
31. Menneg PPN/Kepala Bappenas: Armida Alisjahbana
32. Menneg BUMN: Mustafa Abubakar
33. Menneg Perumahan Rakyat: Suharso Manoarfa
34. Menneg Pemuda dan Olahraga: Andi Mallarangeng

Pejabat Negara:
1. Ketua Unit Kerja Presiden Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan: Kuntoro Mangkusubroto
2. Kepala BIN (Badan Intelijen Negara): Jenderal Pol Purn Sutanto
3. Kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal): Gita Wirjawan

Dan Berikut Foto Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II

Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
Presiden Republik Indonesia
www.presidensby.info
Prof. Dr. Budiono, M.Ec
Wakil Presiden Republik Indonesia
www.setwapres.go.id
Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto
Menteri Koordinator
Politik, Hukum dan Keamanan
www.polkam.go.id
 
Ir. Hatta Rajasa
Menteri Koordinator
Perekonomian
www.ekon.go.id
Dr. H.R. Agung Laksono
Menteri Koordinator
Kesejahteraan Rakyat
www.menkokesra.go.id
  

Letjen TNI (Purn) Sudi Silalahi
Menteri Sekretaris Negara
www.setneg.ri.go.id

Gamawan Fauzi SH,MS
Menteri Dalam Negeri
www.depdagri.go.id
Dr. Raden Mohammad Marty Muliana Natalegawa, M.Phil, B.Sc
Menteri Luar Negeri
www.deplu.go.id
Laksamana Madya (Purn.) Freddy Numberi
Menteri Perhubungan
www.dephub.go.id
Prof.Dr.Ir. Muhammad Nuh
Menteri Pendidikan Nasional
www.depdiknas.go.id
Prof. Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro
Menteri Pertahanan
www.dephan.go.id
Ir.Mohamad Suleman Hidayat
Menteri Perindustrian
www.dprin.go.id
Dr.H. Salim Segaf Al-Jufrie
Menteri Sosial
www.depsos.go.id
Patrialis Akbar,SH
 Menteri Hukum dan HAM
www.depkehham.go.id
Dr. Mari E. Pangestu
 Menteri Perdagangan
www.depdag.go.id
Drs. H. Suryadharma Ali
Menteri Agama
www.depag.go.id
Ir. H. Tifatul Sembiring
Menteri Komunikasi dan Informatika
www.depkominfo.go.id
Ir. H. Suswono, MMA
Menteri Pertanian
www.deptan.go.id
Ir. Jero Wacik SE
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata
www.budpar.go.id
Hendarman Supandji, SH
Jaksa Agung
www.kejaksaan.go.id
Zulkifli Hasan, SE, MM
Menteri Kehutanan
www.dephut.go.id
Prof.Dr.Ir. H. Gusti Muhammad Hatta
Menteri Negara Lingkungan Hidup
www.menlh.go.id
Agus D.W. Martowardojo
Menteri Keuangan
www.depkeu.go.id
Dr.Darwin Zahedy Saleh
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
www.esdm.go.id
Linda Amalia Sari, Sip
 Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan
www.menegpp.go.id
Dr. dr. Endang Rahayu Sedyaningsih
Menteri Kesehatan
www.depkes.go.id
Dr. Ir.Fadel Muhammad
Menteri Kelautan dan Perikanan
www.dkp.go.id
EE Mangindaan, Sip
Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
www.menpan.go.id
Ir. H. Ahmad Helmy Faishal Zaini
Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal
www.kemenegpdt.go.id
Drs H. A. Muhaimin Iskandar, MSi
 Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
www.nakertrans.go.id
Suharso Manoarfa,MA
 Menteri Negara Perumahan Rakyat
www.kemenpera.go.id
Dr. Syariefuddin Hasan
Menteri Negara Koperasi dan UKM
www.depkop.go.id
Ir. Djoko Kirmanto, Dipl. HE
Menteri Pekerjaan Umum
www.pu.go.id
Dr. Andi Alfian Mallarangeng
Menteri Negara Pemuda dan Olahraga
Dr. Ir. Musfata Abubakar
 Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara
www.bumn-ri.com
Prof. Dr. Armida Alisjahbana
 Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS
www.bappenas.go.id
Drs.H. Suharna Surapranata, MT
 Menteri Negara Riset dan Teknologi/Kepala BPPT
www.ristek.go.id


 

Kamis, 27 Januari 2011

MEMANEN BUAH TANAMAN TERONG HIJAU DAN TERONG UNGU

1. KRITERIA BUAH TERONG SIAP UNTUK DI PANEN
Sebenarnya,kriteria buah terong yang siap untuk dipanen adalah sesuai dengan varietas asalnya.Tetapi sebagai gambaran umum,kriteria buah terong yang siap untuk dipanen adalah sbb.
a. Untuk terong hijau yang jenisnya lonjong
1. Bentuk buahnya memanjang (lonjong)
2. Buah terisi penuh
3. Daging buah belum keras
4. Warna kulit buah hijau cerah dan mengkilat ada pula yang agak putih (sesuai varietas)
5. Buah kelihatan segar
6. Ukuran buah tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil
7. Ujung buah agak membulat tetapi tidak membulat penuh dan sedikit meruncing (sesuai varietas)
b. Untuk terong hijau yang jenisnya bulat
1. Buah berbentuk bulat agak lonjong
2. Buah terisi penuh
3. Daging buah belum keras
4. Warna kulit buah hijau mengkilat ada pula yang agak putih (sesuai varietas)
5. Buah kelihatan segar
6. Ukuran buah tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil
7. Bila dipotong belum tampak biji yang berwarna kuning keemasan
8. Warna daging masih putih bersih
9. Ujung buah membulat bahkan membulat penuh (sesuai varietas)
c. Untuk terong ungu yang jenisnya lonjong
1. Bentuk buahnya memanjang (lonjong)
2. Buah terisi penuh
3. Daging buah belum keras
4. Warna kulit buah ungu cerah dan mengkilat
5. Buah belum berwarna kecoklatan
6. Buah kelihatan segar
7. Ukuran buah tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil
8. Ujung buah agak membulat tetapi tidak membulat penuh dan sedikit meruncing (sesuai varietas)
d. Untuk terong ungu yang jenisnya bulat ,maka
1. Buah berbentuk bulat agak lonjong
2. Buah terisi penuh dan
3. Daging belum keras
4. Warna kulit buah ungu mengkilat
5. Buah belum berwarna kecoklatan
6. Buah kelihatan segar
7. Ukuran tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil
8. Bila dipotong belum tampak biji yang berwarna kuning keemasan
9. Warna daging buah masih putih bersih
10. Ujung buah membulat bahkan membulat penuh (sesuai varietas)

2. CARA / TEKNIK PEMANENAN BUAH TERONG
Pada terong hijau lonjong / bulat maupun terong ungu lonjong / bulat,cara / teknik pemanenannya adalah sama yaitu dengan cara memotong bagian pangkal tangkai buah.Atau bisa juga kira kira 1,5 cm dari pangkal tangkai buah untuk mempercepat pekerjaan pada penanganan pasca panennya.
Pemanenan dilakukan dengan menggunakan alat yang tajam.Fungsi dari alat yang tajam antara lain adalah merapikan bekas potongan supaya rajin serta tidak menambah luka pada bagian tanaman sehingga tidak menambah luka pada bagian sayatan sehingga tidak menimbulkan efek sekunder.Selain itu juga untuk mencegah terjadinya kerontokan bunga lain saat buah dipetik / dipanen.

3. ALAT DAN BAHAN DALAM PEMANENAN BUAH TERONG
Alat yang digunakan dalam proses memanen buah tanaman terong adalah:
• Pisau atau gunting stek
Pisau atau gunting stek dalam keadaan tajam sebagai alat untuk memotong tangkai buah
• Bak / karung
Bak / karung sebagai tempat buah pada saat buah dipanen dan sebagai wadah saat pengangkutan dari lahan ke tempat penanganan pasca panennya.

4. WAKTU UMUR PANEN BUAH TERONG
Untuk umur tanaman siap untuk dipanen adalah tergantung dari varietasnya sendiri walaupun ada variatas terong yang bisa dipanen pada umur 2 bulan.Tetapi biasanya adalah setelah umur 2,5 - 3 bulan.
Pemanenan juga harus mempertimbangkan pula lama pengangkutannya.Sebaiknya buah dipetik dalam keadaan lebih muda tetapi bijinya belum keras dan struktur daging buahnya belum liat.Bila buah akan diangkut dalam jangka waktu yang lama maka buah dipetik sebelum masak tetapi sudah tampak barnas (berisi).

5. ROTASI PANEN
Rotasi panen dapat dilakukan rutin tiap 3-7 hari sekali dengan cara memilih buah yang sudah siap dipetik atau seminggu dua kali sehingga total dalam satu musim dapat dilakukan 8 kali panen dengan potensi jumlah buah per tanaman bisa mencapai 18 buah.

6. WAKTU PANEN
Waktu pemanenan yang paling tepat pagi atau sore hari.Waktu pemanenan berpengaruh terhadap kualitas buah yang dipanen.Dianjurkan panen tidak dilakukan pada siang hari karena dila dilakukan pada siang hari akan memutuskan proses fotosintesis yang sedang berlangsung,sehingga proses pembentukan zat gizinya akan terganggu yang dapat mengakibatkan kadar gizi dari buah yang dipanen pada siang hari lebih rendah daripada buah yang dipanen pada siang hari.Selain itu,sinar terik dari matahari dapat mengakibatkan kerusakan pada buah berupa mengeriputnya kulit buah yang dapat menurunkan kwalitas / mutu dari buah yang dipanen.Juga tidak dianjurkan melakukan panen pada malam hari karena dapat mempersulit pemanen itu sendiri saat proses pemanenan.
Pemanenan hendaknya dilakukan pada siang hari saat cuaca cerah/tidak hujan.Sebab air hujan yang membasahi buah yang dipanen dapat menyebabkan buah cepat rusak setelah dipanen,sehingga dapat mempengaruhi kwalitas buah yang dipanen.Pemanenan dilakukan pagi hari karena tanaman belum melakukan fotosintesis secara optimal/besar besaran atau sore hari karena tanaman sudah memproduksi zat gizi pada siang harinya.

7. PENGANGKUTAN BUAH TERONG
Pengangkutan buah terong dari lahan menuju ke tempat penanganan pasca panen dapat dilakukan dengan cara memasukkah buah terong yang telah dipanen ke dalan bak atau karung yang ditata rapi di dalamnya dan diikat pada bagian ujung karung (bila menggunakan karung) lalu di angkut ke tempat penanganan pasca panen dengan gerobag atau mobil yang sebelumnya karung karung atau bak bak tersebut ditata rapi pada mobil atau gerobag.

8. PENANGANAN PASCA PANEN BUAH TERONG
Penanganan pasca panen baik terong hijau maupun terong ungu adalah:
• Memotong setengah dari tangkai buah agar mudah dalam pembungkusan atau pengemasan.Bila perlu kadan dipotong sampai habis.
• Membersihkan bagian luar buah dari kotoran atau tanah yang menempel pada kulit buah dengan menggunakan kain atau lap yang telah dibasahi dengan air.
• Mengemas buah dalam plastik bila akan dijual langsung kepada konsumen atau ditata rapi di dalam karung bila akan dijual ke pasar atau padagang pengepul.

Rabu, 26 Januari 2011

ALAT MUAT , ALAT ANGKUT , DAN GUDANG PENYIMPANAN BUAH TANAMAN KOPI


A. ALAT MUAT
Alat muat / pemuatan untuk memuat buah tanaman kopi baik itu alat muat pada saat panen berlangsung maupun alat muat untuk pengangkutannya adalah sebagai berikut :
1. Keranjang Anyaman Bambu ( Tenggok )
Keranjang bambu atau dalam bahasa jawa disebut tenggok merupakan salah satu alat yang sering digunakan oleh petani kopi sebagai wadah untuk tempat memuat buah tanaman kopi yang dipetik.Keranjang bambu / tenggok berukuran bermacam macam,mulai dari ukuran terkecil sampai besar seperti pada keranjang yang sering digunakan oleh para pemetik daun teh.Keranjang bambu / tenggok ini sering dipakai / digunakan para petani kopi jaman dulu sebelum munculnya ember atau timba dari bahan plastic walaupun sampai saat inipun masih banyak dari para petani yang menggunakannya.

2. Ember Plastik
Seiring dengan perkembangan jaman,berkembang pulalah berbagai macan alat yang digunakan untuk alat muat buah kopi.Ember berbahan plastik kini sangat banyak dijumpai di pasaran.Alat muat satu ini sering digunakan oleh petani kopi jaman sekarang.Kebanyakan petani beralih dari manggunakan keranjang bambu menggunakan ember plastic sebagai alat muat buah kopi.Fungsi dari alat ini sama dengan keranjang bambu / tenggok.Keunggulan dari alat ini antara lain adalah lebih kuat,lebih ringan,lebih mudah dibawa dan juga umur / jangka waktu pemakaiannya lebih lama karena bersifat tahan air.Alasan lainnya adalah lebih mudah,murah dan lebih praktis. 

3. Karung Plastik
Alat muat ini lebih sering digunakan untuk memuat buah kopi yang masih basah ( baru dipanen ).Selain lebih ringan,alat muat ini tidak cepat rusak bila terkena air sehingga banyak dari petani kopi yang menggunakannya.Karung plastic ini digunakan hanya sebatas untuk memuat buah kopi yang baru dipanen dan sebagai alat muat pada saat buah kopi diangkut dari kebun ke tempat pengolahan/ tempat penanganan pasca panen sebelum akhirnya disimpan / diolah.

4. Karung Goni
Sampai saat ini penggunaan karung goni sebagai alat pemuatan buah kopi saat penyimpanan masaih banyak dilakukan.Selain bersifat menyerap air,juga sirkulasi udara dari luar kedalam kerung tidak terlalu besar dan juga bersifat hangat karena bahannya yang tebal sehingga dapat memperpanjang masa penyimpanan biji kopi baik dalam bentuk kopi kering maupun kopi beras. 

B. ALAT ANGKUT
Alat angkut / pengangkutan untuk tanaman kopi dari lahan ke tempat penanganan pasca panen adalah sebagai berikut :
1. Angkong
Angkong merupakan gerobak kecil beroda satu di bagian depan dan dua penyangga di bagian belakang.Alat ini digunakan untuk mengangkut buah kopi yang dipanen dan yang telah dimuat dalam karung plastic untuk memperlancar pengangkutan dari lahan ke tepian lahan / tempat penampungan sementara.Angkong juga digunakan di tempat pengolahan sebagai alat angkut dari tempat penjemuran ke gudang penyimpanan.Angkong hanya dapat memuat buah kopi yang jumlahnya relatif sedikit tidak seperti gerobak.Angkong dilahan kadang tidak digunakan karena banyak petani yang berskala kecil hanya menggunakan tenaganya untuk mengangkut kopi dari lahan ke tempat penampungan sementara.
2. Gerobak
Gerobak merupakan alat angkut yang berukuran lebih besar daripada angkong.Gerobak dapat membawa beban yang lebih besar karena didukung dua roda dan dua atau satu penyangga di belakang.Fungsinya sama dengan angkong haya saja ia dapat memuat dengan jumlah yang lebih besar.Gerobak biasanya terbuat dari besi atau seng dan kayu. 
3. Mobil Bak Terbuka ( Pick Up / Colt )
Mobil jenis ini tidak hanya digunakan untuk mengangkut buah kopi tetapi juga dapat digunakan untuk memuat buahan ataupun sayuran ataupun jenis barang lain.Mobil jenis ini mampu memuat 10 kali lebih besar dari beban yang dibawa oleh gerobak bahkan lebih,dan mobil jenis ini biasanya digunakan untuk mengangkut kopi dalam jarak yang dekat karena tidak didukung oleh tenaga yang besar walaupun terkadang ada yang menggunakannya dalam jarak yang cukup jauh. 
4. Truk
Sampai saat ini penggunaan truk sebagai alat pengangkutan barang terutama hasil pertanian masih banyak dilakukan,termasuk untuk mengangkut kopi.Truk memiliki kapasitas dan tenaga yang jauh lebih besar dibandingkan mobil bak terbuka.Penggunaan truk biasanya dilakukan oleh perkebunan kopi skala besar / perusahaan karena lebih muat banyak,tenaga mesin lebih besar sehingga efisien waktu.Truk juga digunakan untuk mengangkut buah kopi dalam jarak yang relatif jauh misalnya antar pulau.Biasanya kopi yang diangkut ke luar pulau adalah dalam bentuk kopi kering. 


C. GUDANG PENYIMPANAN BIJI KOPI
Buah kopi dapat disimpan dalam bentuk buah kopi kering atau buah kopi parchment kering yang membutuhkan kondisi penyimpanan yang sama. Biji kopi KA air 11 % dan RH udara tidak lebih dari 74 %. Pada kondisi tersebut pertumbuhan jamur (Aspergilus niger, A. oucharaceous dan Rhizopus sp) akan minimal.
Di Indonesia kopi yang sudah diklasifikasi mutunya disimpan didalam karung goni dan dijahit zigzag mulutnya dengan tali goni selanjutnya disimpan didalam gudang penyimpanan. ( lihat gambar C )
Syarat gudang penyimpanan kopi :
1. Gudang mempunyai ventilasi yang cukup.
2. Suhu gudang optimum 20°C-25°C.
3. Gudang harus bersih, bebas dari hama penyakit serta bau asing.
4. Karung ditumpuk di lantai yang diberi alas kayu setinggi 10 cm.

Selasa, 25 Januari 2011

BUDIDAYA KELAPA SAWIT

 I. PENDAHULUAN
Agribisnis kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), baik yang berorientasi pasar lokal maupun global akan berhadapan dengan tuntutan kualitas produk dan kelestarian lingkungan selain tentunya kuantitas produksi. PT. Natural Nusantara berusaha berperan dalam peningkatan produksi budidaya kelapa sawit secara Kuantitas, Kualitas dan tetap menjaga Kelestarian lingkungan (Aspek K-3).




II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
Lama penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam/hari. Curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm. Temperatur optimal 24-280C. Ketinggian tempat yang ideal antara 1-500 m dpl. Kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan.
2.2. Media Tanam
Tanah yang baik mengandung banyak lempung, beraerasi baik dan subur. Berdrainase baik, permukaan air tanah cukup dalam, solum cukup dalam (80 cm), pH tanah 4-6, dan tanah tidak berbatu. Tanah Latosol, Ultisol dan Aluvial, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit.

III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Penyemaian
Kecambah dimasukkan polibag 12x23 atau 15x23 cm berisi 1,5-2,0 kg tanah lapisan atas yang telah diayak. Kecambah ditanam sedalam 2 cm. Tanah di polibag harus selalu lembab. Simpan polibag di bedengan dengan diameter 120 cm. Setelah berumur 3-4 bulan dan berdaun 4-5 helai bibit dipindahtanamkan.
Bibit dari dederan dipindahkan ke dalam polibag 40x50 cm setebal 0,11 mm yang berisi 15-30 kg tanah lapisan atas yang diayak. Sebelum bibit ditanam, siram tanah dengan POC NASA 5 ml atau 0,5 tutup per liter air. Polibag diatur dalam posisi segitiga sama sisi dengan jarak 90x90 cm.

3.1.2. Pemeliharaan Pembibitan
Penyiraman dilakukan dua kali sehari. Penyiangan 2-3 kali sebulan atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma. Bibit tidak normal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis harus dibuang. Seleksi dilakukan pada umur 4 dan 9 bulan.
Pemupukan pada saat pembibitan sebagai berikut :
Pupuk Makro
> 15-15-6-4 Minggu ke 2 & 3 (2 gram); minggu ke 4 & 5 (4gr); minggu ke 6 & 8 (6gr); minggu ke 10 & 12 (8gr)
> 12-12-17-2 Mingu ke 14, 15, 16 & 20 (8 gr); Minggu ke 22, 24, 26 & 28 (12gr), minggu ke 30, 32, 34 & 36 (17gr), minggu ke 38 & 40 (20gr).
> 12-12-17-2 Minggu ke 19 & 21 (4gr); minggu ke 23 & 25 (6gr); minggu ke 27, 29 & 31 (8gr)
> POC NASA Mulai minggu ke 1 – 40 (1-2cc/lt air perbibit disiramkan 1-2 minggu sekali).


Catatan : Akan Lebih baik pembibitan diselingi/ditambah SUPER NASA 1-3 kali dengan dosis 1 botol untuk + 400 bibit. 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 4 liter (4000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman

3.2. Teknik Penanaman
3.2.1. Penentuan Pola Tanaman
Pola tanam dapat monokultur ataupun tumpangsari. Tanaman penutup tanah (legume cover crop LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma). Penanaman tanaman kacang-kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai.

3.2.2. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat beberapa hari sebelum tanam dengan ukuran 50x40 cm sedalam 40 cm. Sisa galian tanah atas (20 cm) dipisahkan dari tanah bawah. Jarak 9x9x9 m. Areal berbukit, dibuat teras melingkari bukit dan lubang berjarak 1,5 m dari sisi lereng.

3.2.3. Cara Penanaman
Penanaman pada awal musim hujan, setelah hujan turun dengan teratur. Sehari sebelum tanam, siram bibit pada polibag. Lepaskan plastik polybag hati-hati dan masukkan bibit ke dalam lubang. Taburkan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang selama + 1 minggu di sekitar perakaran tanaman. Segera ditimbun dengan galian tanah atas. Siramkan POC NASA secara merata dengan dosis ± 5-10 ml/ liter air setiap pohon atau semprot (dosis 3-4 tutup/tangki). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA. Adapun cara penggunaan SUPER NASA adalah sebagai berikut: 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon.

3.3. Pemeliharaan Tanaman
3.3.1. Penyulaman dan Penjarangan
Tanaman mati disulam dengan bibit berumur 10-14 bulan. Populasi 1 hektar + 135-145 pohon agar tidak ada persaingan sinar matahari.

3.3.2. Penyiangan
Tanah di sekitar pohon harus bersih dari gulma.

3.3.3. Pemupukan
Anjuran pemupukan sebagai berikut :

Pupuk Makro
Urea Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst
225 kg/ha
1000 kg/ha

TSP Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
Bulan ke 48 & 60
115 kg/ha
750 kg/ha

MOP/KCl Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst
200 kg/ha
1200 kg/ha

Kieserite Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst
75 kg/ha
600 kg/ha

Borax Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst
20 kg/ha
40 kg/ha


NB. : Pemberian pupuk pertama sebaiknya pada awal musim hujan (September - Oktober) dan kedua di akhir musim hujan (Maret- April).

POC NASA
a. Dosis POC NASA mulai awal tanam :

0-36 bln 2-3 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang, setiap 4 - 5 bulan sekali

>36 bln 3-4 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang, setiap 3 – 4 bulan sekali


b. Dosis POC NASA pada tanaman yang sudah produksi tetapi tidak dari awal memakai POC NASA
Tahap 1 : Aplikasikan 3 - 4 kali berturut-turut dengan interval 1-2 bln. Dosis 3-4 tutup/ pohon
Tahap 2 : Aplikasikan setiap 3-4 bulan sekali. Dosis 3-4 tutup/ pohon
Catatan: Akan Lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPER NASA 1-2 kali/tahun dengan dosis 1 botol untuk + 200 tanaman. Cara lihat Teknik Penanaman (Point 3.2.3.)

3.3.4. Pemangkasan Daun
Terdapat tiga jenis pemangkasan yaitu:
a. Pemangkasan pasir
Membuang daun kering, buah pertama atau buah busuk waktu tanaman berumur 16-20 bulan.
b. Pemangkasan produksi
Memotong daun yang tumbuhnya saling menumpuk (songgo dua) untuk persiapan panen umur 20-28 bulan.
c. Pemangkasan pemeliharaan
Membuang daun-daun songgo dua secara rutin sehingga pada pokok tanaman hanya terdapat sejumlah 28-54 helai.

3.3.5. Kastrasi Bunga
Memotong bunga-bunga jantan dan betina yang tumbuh pada waktu tanaman berumur 12-20 bulan.

3.3.6. Penyerbukan Buatan
Untuk mengoptimalkan jumlah tandan yang berbuah, dibantu penyerbukan buatan oleh manusia atau serangga.
a. Penyerbukan oleh manusia
Dilakukan saat tanaman berumur 2-7 minggu pada bunga betina yang sedang represif (bunga betina siap untuk diserbuki oleh serbuk sari jantan). Ciri bunga represif adalah kepala putik terbuka, warna kepala putik kemerah-merahan dan berlendir.

Cara penyerbukan:
1. Bak seludang bunga.
2. Campurkan serbuk sari dengan talk murni ( 1:2 ). Serbuk sari diambil dari pohon yang baik dan biasanya sudah dipersiapkan di laboratorium, semprotkan serbuk sari pada kepala putik dengan menggunakan baby duster/puffer.
b. Penyerbukan oleh Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit
Serangga penyerbuk Elaeidobius camerunicus tertarik pada bau bunga jantan. Serangga dilepas saat bunga betina sedang represif. Keunggulan cara ini adalah tandan buah lebih besar, bentuk buah lebih sempurna, produksi minyak lebih besar 15% dan produksi inti (minyak inti) meningkat sampai 30%.

3.4. Hama dan Penyakit
3.4.1. Hama
a. Hama Tungau
Penyebab: tungau merah (Oligonychus). Bagian diserang adalah daun. Gejala: daun menjadi mengkilap dan berwarna bronz. Pengendalian: Semprot Pestona atau Natural BVR.

b. Ulat Setora
Penyebab: Setora nitens. Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun dimakan sehingga tersisa lidinya saja. Pengendalian: Penyemprotan dengan Pestona.

3.4.2. Penyakit
a. Root Blast
Penyebab: Rhizoctonia lamellifera dan Phythium Sp. Bagian diserang akar. Gejala: bibit di persemaian mati mendadak, tanaman dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan akar. Pengendalian: pembuatan persemaian yang baik, pemberian air irigasi di musim kemarau, penggunaan bibit berumur lebih dari 11 bulan. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO.

b. Garis Kuning
Penyebab: Fusarium oxysporum. Bagian diserang daun. Gejala: bulatan oval berwarna kuning pucat mengelilingi warna coklat pada daun, daun mengering. Pengendalian: inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO semenjak awal.

c. Dry Basal Rot
Penyebab: Ceratocyctis paradoxa. Bagian diserang batang. Gejala: pelepah mudah patah, daun membusuk dan kering; daun muda mati dan kering. Pengendalian: adalah dengan menanam bibit yang telah diinokulasi penyakit.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki .

3.5. Panen
3.5.1. Umur Panen
Mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih.

Crop Circle Ufo Di Lahan Persawahan Warga Jogotirto Sleman

    Ufo di sleman atau yang biasa disebut Crop Circle Ufo, ditemukan di kawasan persawahan Desa Rejosari, Jogotirto, Berbah, Sleman, dimana distu dini hari tadi ditemukan adanya lambang ufo yang di percayai warga merupakan tempat mendaratnya ufo, Padi yang ambruk di tengah sawah membentuk pola lingkaran yang sangat rapi. Tak sedikit yang berpendapat bahwa pola itu sengaja dibuat manusia.
    Istilah ilmiah untuk fenomena ini biasa disebut dengan istilah crop circles atau linkar taman. Lingkaran tanaman (bahasa Inggris:Crop circles) adalah suatu pola teratur yang terbentuk secara misterius di area ladang tanaman, seringkali hanya dalam waktu semalam. Dan untuk di Indonesia fenomena ala mini terjadi pertama kalinya
    Terjadinya Crop Circle Ufo ini sebenarnya pertama kali ditemukan di Inggris pada akhir tahun 1970an, dimana Crop Circle Ufo tersebut bentuk pola-pola lingkaran sederhana. Pada masa-masa setelahnya, pola ini cenderung bertambah rumit dan tidak terbatas hanya pada lingkaran saja
    Bagi yang penasaran pengen lihat foto ufo di sleman atau Foto Crop Circle Ufo di sleman Jogjakarta berikut ini beberapa foto yang berhasil saya dapatkan dari media di internet
foto ufo di sleman

Kamis, 20 Januari 2011

Vonis Gayus, Maknyus..!!


Haah.. tujuh tahun penjara? Lho kok cuma segitu? Sedikit sekali? Wah ga adil nih?.....Itulah pertanyaan dan komentar yang muncul bertubi-tubi, setelah majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis 7 penjara dan denda Rp300 juta kepada Gayus Tambunan, pegawai Dirjen Pajak yang didakwa melakukan korupsi dan suap.

Wajar jika kemudian mucul banyak komentar miring, bernada protes dan mempertanyakan putusan itu. Vonis itu sendiri 13 tahun lebih ringan dari tuntutan jaksa yang meminta hukuman penjara 20 tahun.

Vonis ini memang sangat jauh dari ekspektasi atau harapan masyarakat secara umum, yang menginginkan hukuman berat bagi para koruptor, paling tidak 20 tahun atau seumur hidup. Masyarakat kemudian membandingkan dengan hukuman untuk para koruptor di negeri tirai bambu yakni hukuman mati.

Bagi Gayus, vonis 7 tahun tentu terasa maknyuus!! mantab, menyenangkan, sesuai dengan harapan.

Tapi bagi masyarakat luas ini terasa maknyos!!..menyengat, karena vonis yang jauh dari tuntutan jaksa itu seolah mengusik rasa keadilan mereka, yang konstruksi pikirannya sudah terbangun sedemikian rupa, bahwa Gayus adalah koruptor besar yang juga nakal, karena ketika sudah ditahanpun dia menyogok sejumlah polisi penjaga selnya sehingga bisa seenaknya keluar dari sel dan pelesiran ke Bali dan mancanegara.

Apa yang selama ini diberitakan setiap hari oleh media massa ternyata tak tergambar di dalam ruang persidangan. Dari besarnya gambaran mafia pajak dan mafia hukum yang dilakoni Gayus, ternyata hanya sedikit saja yang diperdebatkan di dalam ruang persidangan. Alhasil, memang terjadi kesenjangan antara diskusi di luar dan fakta yang ada di dalam persidangan.

Terlepas dari memperdebatkan putusan hakim, barangkali kita memang lupa menggawangi apa yang didakwakan kepada Gayus. Jaksa mendakwa Gayus dengan empat pasal berlapis.

Pertama, Gayus dijerat dengan pasal 3 Jo Pasal 18 undang-undang tindak pidana korupsi. Dia diduga memperkaya diri sendiri. Gayus telah merugikan keuangan negara sebesar RP 570.952.000, terkait penanganan keberatan pajak PT Surya Alam Tunggal Sidoarjo.

Kedua, Gayus dijerat dengan Pasal 5 ayat 1 huruf a undang-undang Tindak Pidana Korupsi, Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1. Dia dituding menyuap penyidik Mabes Polri M Arafat Enanie, Sri Sumartini, dan Mardiyani.

Ketiga, Gayus dijerat pasal 6 ayat 1 undang-undang tindak pidana korupsi karena telah memberikan sejumlah uang sebesar 40.000 dolar AS kepada Hakim Muhtadi Asnun, Ketua Majelis Hakim yang menangani perkara Gayus di Pengadilan Negeri Tangerang.

Keempat, Gayus dijerat dengan pasal 22 Jo pasal 28 Undang-undang tindak pidana korupsi. Gayus didakwa telah dengan sengaja memberi keterangan yang tidak benar untuk kepentingan penyidikan.

Jelaslah, bahwa dari dakwaan ini memang tidak tergambar besarnya korupsi yang dilakukan Gayus Tambunan, sehingga majelis hakimpun barangkali bisa dinilai wajar jika menjatuhkan hukuman hanya 7 tahun penjara.

Lantas kenapa bisa begitu, itulah yang menjadi pertanyaan besar. Duga mendugapun muncul, jangan-jangan ada unsur kesengajaan untuk membuat dakwaan yang minimalis, agar kasus Gayus tak melebar kemana-mana, dan menyeret orang-orang besar lain.

Di dalam persidangan, Gayus beberapa kali menyebut keterkaitan pejabat-pejabat besar dalam kasus mafia pajak di lingkungan kerjanya. Gayuspun bahkan protes, karena merasa hanya dirinya saja dan orang-orang kecil yang diobok-obok tetapi orang-orang besar atau big fish-nya tak pernah disentuh.

Tapi pernyataan itu tak digali lebih dalam. Mungkin majelis hakim mengganggap hal itu memang tak relevan dengan dakwaan yang hanya sebegitu.

Semula masyarakat berharap, kasus Gayus akan menjadi sebuah momen yang sangat penting, langkah awal untuk membongkar korupsi dan kolusi yang lebih besar di dunia perpajakan. Tapi harapan itupun menguap. Vonis yang dijatuhkan kepada Gayus seolah menjadi antiklimaks. Sama seperti kekalahan Timnas kita di Piala AFF 2010, yang terjadi justru di tengah-tengah euforia bangkitnya persepakbolaan nasional.

Seolah menutupi misteri kasus mafia pajak itu, masyarakat kembali dijejali pertanyaan besar, ketika usai pembacaan vonis, Gayus bersuara lantang menungkapkan kekecewaannya kepada satgas pemberantasam mafia hukum. Gayus merasa tertipu dan menuduh satgas telah melakukan rekayasa terhadap kasusnya.

Konsentrasipun terpecah. Diskusi tentang minimnya hukuman terhadap Gayus, tertimpa oleh diskusi lain yang muncul karena bantah membantah antara Gayus dan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum.

Kita semua tentu berharap, diskusi kembali terfokus pada upaya pengungkapan dan pemberantasan mafia hukum dan mafia pajak. Upayanya tak boleh berhenti hanya sampai di sini. Harus ada upaya yang lebih keras untuk meneruskan penelusuran, penyelidikan dan penyidikan terhadap para mafia, sebagai bagian dari upaya pemberantasaan korupsi di negeri ini.

Pengakuan Gayus bahwa dia terlibat langsung dan tidak langsung pada pengurusan pajak 151 perusahaan masih bisa menjadi peluang untuk mengungkap kasus yang lebih besar.

Pusat Pelaporan Analisis Transaksi dan Keuangan (PPATK) juga pernah mengungkapkan adanya transaksi tunai dalam jumlah besar dan mencurigakan di dalam rekening pribadi sejumlah pejabat dan keluarga pejabat Direktorat Jendral Pajak.

Ini artinya masih ada peluang. Jangan sampai aparat penegak hukum kita kehilangan momen untuk memberantas korupsi. Jangan pula menyirnakan harapan masyarakat.


Marthin BL
Kadep Liputan6.com